Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

JADILAH LAKSANA TONGGAK, NAMUM JANGAN JADI LAKSANA BURUNG GAGAK

Kemaren pagi, Ahad 1 Juli 2022, saya mampir di warung Bu De Sri untuk sarapan pagi sehabis bersih-bersih rumah. Sambil sarapan saya dan Pak. De bercerita banyak tentang bagaimana warungnya bisa istiqomah melayani pembeli sampai sekarang. Di tengah obrolan saya dengan Pak. De, tetiba Bu De Sri datang dan ikut ngobrol dengan kami. Di antara obrolan yang paling melekat dalam pikiran saya adalah tentang perumpamaan untuk menjadi laksana tonggak dan jangan menjadi laksana burung gagak.

JADILAH LAKSANA TONGGAK, NAMUM JANGAN JADI LAKSANA BURUNG GAGAK

Bu De Sri menjelaskan bahwa perumpamaan itu merupakan nasehat yang turun-temurun diberikan oleh Embahnya dulu. Lebih lanjut beliau memaparkan bahwa menjadi laksana tonggak yang kerjanya jelas, yaitu menopang beban yang ada di atasnya tanpa banyak bicara dan cakap. Artinya, kita harus menjadi laksana tonggak yang kerjanya sangat vital meskipun kadang tak tampak, namun tidak banyak bicara. Itu bermakna, bahwa setiap kita harus bekerja dengan baik dalam rangka memberikan kontribusi nyata di manapun kita berada dan tidak banyak bicara ketika bekerja apalagi sampai ngerumpi di tengah kerja.

Setelah mendengar penjelasan dari Bu De tersebut tentang arti perumpamaan jadilah seperti tonggak, kemudian saya menempali dengan mengutip sebuah Hadis Rasulullah SAW. dari Anas bin Malik yang mengatakan, "As-Sumtu hikamun waqolilun fa'iluhu" (Diam itu banyak hikmahnya namun sedikit yang mengerjakannya. (HR. Baihaqi). Artinya, bahwa memang banyak hikmah dari diam dan hanya berbicara manaka penting serta mendatangkan maslahat dan manfaat. Namun hal itu sedikit yang melakukannya.

Kemudian Bu De lebih lanjut menjelaskan tentang perumpamaan jangan menjadi seperti burung gagak. Artinya, jangan banyak omong, cerewet dan bawel, sementara pekerjaan dan hasil kerjanya tidak jelas. Atau dalam istilah sekarang "NATO" (No action talking only). Dia hanya banyak cakap dan banyak ngomong, sementara tidak ada hasil dan prestasi dari pekerjaan yang diberikan dan dibebankan kepadanya.

Begitu juga, setelah mendengar penjelan itu saya timpali dengan mengutip Hadis Rasulullah SAW. yang berbunyi : "La tuktsirul kalama bighairi dzikrillah, fainna katsratal kalami bighairi dzikrillahi ta'ala qaswatun lil qalbi, wainna ab'adan nasi minallahi al-qalbul qasi" (Janganlah kalian banyak bicara selain zikir kepada Allah! Sesungguhnya banyak bicara selain zikir kepada Allah Ta'ala dapat mengeraskan hati. Sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah orang yang keras hatinya. (HR. Tirmidzi).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa banyak sekali perumpamaan yang disampaikan oleh orang tua kita dulu sebagai nasehat yang sebenarnya sumbernya adalah Hadis-Hadis Rasulullah SAW. Tujuan pengambilan perumpamaan itu adalah agar kita mudah menangkap dan mudah memahaminya. Wallahu a'lam.
3 Muharram 1443 H.

5 komentar untuk "JADILAH LAKSANA TONGGAK, NAMUM JANGAN JADI LAKSANA BURUNG GAGAK"

  1. Lebih baik sedikit bicara namun ada hasilnya daripada banyak bicara tapi tidak ada hasilnya.sedikit bicara agar nanti bicaramu lebih di perhatikan daripada bicara omong kosong

    BalasHapus
  2. Banyak la bekerja dari pada berbicar, karena banyak bicara tak kan membuat pekerjaan kita cepat, bahkan bisa jadi lebih lambat dan banyak bicara takan buat pekerjaan kita menjadi lebih sempurna bahkan bisa saja menjadi tak bergunah

    BalasHapus
  3. Ad sebuah pesan dari imam Syafi'i untuk para pemuda،"seorang pemuda itu lebih baik diam dari pada banyak bicara"orang yang banyak bicara itu blm tentu bisa menuntun hidup ny kedalam kesuksesan,akan tetapi orang yang banyak bicara tanpa di dahului pemikiran itu akan membuat nya rugi dan akan timbul nya penyesalan,telah di sampaikan bahwa akhlak dan tutur kata yang baik akan membuat mu bahagia dunia dan akhirat
    "As-salim"

    BalasHapus
  4. Lebih baik bekerja dan bertindak nyata dari pada terlalu banyak bicara.

    BalasHapus
  5. Berbicaralah yg baik, atau diam. Jadi ketika perkataan yg kita lontarkan bukanlah perkataan yg baik terlebih lagi jika itu adalah perkataan kotor, maka lebih baik diam. Karena Allah telah menciptakan lisan kita dengan sebaik baik bentuk maka harus kita pergunakan lisan kita untuk sesuatu yg baik pula.

    BalasHapus